Description
“Aku” sangat ingin menjadi juara lomba lari di sekolah. Latihan dilakukan di gang rumah, di lapangan, bahkan di halaman kecil bersama adik. Hari lomba tiba, degup jantung kencang, keringat mengalir, dan pita finis mengundang. Namun hasilnya tak sesuai harapan—”aku” tidak jadi juara. Ada rasa kecewa, malu, dan marah pada diri sendiri. Perlahan, dengan pelukan ibu, celetukan lucu adik, dan nasihat ayah, “aku” belajar bahwa kalah bukan akhir. “Aku” menemukan cara bangkit: berlatih yang sabar, menghargai teman, dan merayakan kemajuan kecil. Akhirnya, “aku” mengerti: ada juara yang tak terlihat—yaitu keberanian untuk terus mencoba.
